
Minggu, 25 Februari 2024 dilaksanakan sebuah acara yaitu Peringatan Isra Mi’roj Nabi Muhammad SAW, Imtihan MDTA TA’ALLUMU Shibyan dan Grand Launching Batik Kampoeng Poerba di Dukungtengah Desa Galuhtimur Kec. Tonjong Kab. Brebes. Acara dihadiri oleh beberapa tamu seperti, Camat Tonjong, Kepala Desa Galuhtimur, PJ Bupati Brebes, dan juga Kepala Dinas beberapa OPD terkait. Untuk peringatan Isra Mi’roj Nabi Muhammad SAW diisi oleh pemateri yaitu Bapak KH. Rofiq Qoidul Adzam, SH. Setelah rangkaian acara Peringatan Isra Mi’roj Nabi Muhammad SAW, Imtihan MDTA TA’ALLUMU Shibyan, sekira pukul 11.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan acara Grand Launching Batik Kampoeng Poerba. Acara dibuka dengan membaca Basmallah dan dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diikuti oleh semua hadirin. Acara dilanjutkan dengan penampilan Tarian Batu Purba yang dibawakan oleh siswi SD Dukungtengah. Kepala Desa Galuhtimur Bapak Sobandi, AMA mengawali pemberian sambutan, beliau menyampaikan bahwa tujuan dilakukannya kegiatan Launching Batik Kampoeng Poerba ini yaitu untuk mendorong kreativitas warga, semakin memajukan ekonomi yang ada di desa, juga memohon untuk OPD terkait yang ada di Kab. Brebes untuk terus mendorong dan memberi support atas ide dan inisiatif yang inovatif dari Warga Desa Galuhtimur Dukuhtengah. Sambutan selanjutnya yaitu diberikan oleh PJ Bupati Brebes yang dalam hal ini diwakili oleh Bapak Furqon. Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan agenda penjelasan filosofi dari motif batik, Pak Slamet salah satu warga Desa Galuhtimur yang juga sebagai penemu ide untuk menciptakan beberapa motif batik diantaranya ; Motif Batik Bunga Katarak, Motif Batik Gajah Poerba, Motif Batik Gajah Wong, dan Motif Batik Lereng Purba. Menurut penuturan Bapak Slamet Motif Batik Lereng Purba ini adalah gabungan dari ketiga motif batik diatas. Setelah penjelasan filosofi selesai acara dilanjutkan dengan Pemotongan Pita sebagai simbolis Grand Launching Batik Kampoeng Purba, dan dilanjutkan dengan foto Bersama.

Bapak Slamet menuturkan bahwa ada yang special pada filosofi Motif Batik Gajah Wong, dimana dahulu di daerah Desa Galuhtimur Dukuhtengah, tepatnya di daerah perbukitan ada sebuah gundukan pasir yang membentuk Manusia berkepala Gajah. Menurut cerita dan informasi yang beliau dapat bahwa gundukan pasir tersebut beberapa kali jatuh “Menggelinding” kearah dataran bawah, namun hal yang membuat takjub adalah setiap kali gundukan tersebut jatuh menggelinding, gundukan itu akan Kembali ke tempat asalnya dengan sendirinya. Namun selang beberapa waktu, gundukan tersebut yang mungkin bisa disebut sebagai artefak itu hilang. Bapak Slamet menjelaskan bahwa beliau terus mencari informasi kepada para sepuh yang ada disekitar Desa Galuhtimur, kemana artefak itu pergi, namun sampai sekarang beliau belum menemukan jawabannya. Beliau berfikir dan yakin bahwa artefak itu mungkin bukan dicuri oleh pihak tidak bertanggungjawab, bahkan bisa jadi artefak itu dibawa oleh orang yang mencintai Sejarah dan membawa artefak itu pergi, namun dengan cara yang mungkin keliru. Pak Slamet bertujuan dengan dibuatnya Motif Batik Gajah Wong ini dan jika Motif ini nantinya sudah banyak dikenal khalayak ramai, sehingga motif ini bisa sampai kepada orang yang sedang membawa artefak ini dan mengembalikan ke tempat asalnya.

Lain halnya dengan Motif Bunga Katarak, dalam motif ini bunga katarak memancarkan keelokan dan keindahan yang khas dari bunga tersebut. Bunga katarak yang tumbuh subur di Kampoeng Poerba ini menjadi symbol kecantikan yang diabadikan dalam corak/motif batik. Pengguna Batik dengan motif Bunga Katarak ini akan terlihat memancarkan pesona dan kesederhanaan yang bersahaja.

Motif Gajah Poerba memiliki beberapa filosofi diantara lain; dari Motif Gajah fosil itu sendiri menggambarkan temuan fosil gajah purba yang menjadi ciri khas Kampoeng Poerba dan mewakili keberlanjutan kekayaan Sejarah wilayah tersebut, lalu dari motif segi Empat Besar merupakan representasi 4 batas Wilayah Lingkup Kampoeng Poerba, yang meliputi sebelah timur Kelurahan Linggapura (Tonjong), sebelah Barat Dusun Maribaya (Desa Kalinusu, Kecamatan Bumiayu), sebelah Selatan Desa Kalijurang (Tonjong), dan sebelah Utara Desa Tonjong dan Dusun Satir Kutamendala (Tonjong), ada juga motif Titik Putih tanpa putus yaitu simbol harapan terus berkembangnya penemuan fosil di Kampoeng Purba, dan menciptakan nuansa optimis dalam penggalian pengetahuan tentang Sejarah fosil. Adapun motif Segi empat kecil mengartikan 4 batas wilayah;Utara (Tegal), Timur (Banyumas), Selatan (Cilacap), Barat (Cirebon). Untuk Motif Titik Hitam Besar menggambarkan fakta bahwa gajah purba tersebut sudah punah dan meninggalkan jejak berupa fosil, dan menyampaikan pesan tentang pentingnya pelestarian dan perlindungan lingkungan. Yang terakhir dari warna dasar biru mewakili ciri pesisir timur laut Pulau Jawa, juga menambah dimensi artistik, meresapkan elemen geografis dalam Motif Batik Gajah Poerba.

Motif Lereng Purba merupakan sebuah perpaduan harmonis dari empat motif utama, yaitu Gajah Poerba, Gajah Wong, Bunga Katarak, dan Kerang Poerba. Dalam motif ini Gajah Poerba hadir sebagai symbol kegagahan dan keberanian, Bunga Katarak mewakili keelokan alam dan keindahan, Gajah Wong menjadi gambaran sifat kearifan dan sifat rendah hati, sementara untuk Kerang Poerba memperkaya dengan nuansa Sejarah dan symbol kemewahan. Pemakai Motif ini akan terlihat sebagai individu yang gagah, elok, arif, serta memiliki kemewahan.
